MAGELANG – Program Studi Administrasi Pertahanan sukses memformulasikan arah baru tata kelola pertahanan nasional dalam gelaran Seminar Program Studi Administrasi Pertahanan Akademi Militer TA 2026. Agenda akademik strategis yang dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Mei 2026 bertempat di Gedung Lily Rochli, Kesatrian Akademi Militer, Magelang.

Kegiatan seminar ilmiah ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Akademi Militer, Mayjen TNI Rano Tilaar. Dalam sambutan pembukanya, Gubernur Akmil menegaskan bahwa di era konflik digital, siber, dan hibrida, lini administrasi dan logistik tidak lagi boleh dipandang sekadar fungsi pendukung operasional. Keduanya merupakan elemen penentu kesiapan tempur (readiness), keberlanjutan operasi (sustainability), serta daya tahan pertahanan nasional dalam menjaga kedaulatan NKRI.
Hadir sebagai narasumber utama dalam seminar di Gedung Lily Rochli ini, Guru Besar Universitas Gajah Mada, Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr., mengupas tuntas materi penting bertajuk “Pembangunan Kekuatan Pertahanan yang Berkelanjutan melalui Pendekatan Administrasi dan Logistik Pertahanan”. Beliau menawarkan peta jalan komprehensif untuk merombak tata kelola militer Indonesia menjadi sebuah ekosistem yang cerdas, tangguh, berdaulat, dan berkelanjutan.

Dalam aspek administrasi, Prof. Djagal menyoroti pentingnya akselerasi transformasi digital pertahanan memanfaatkan teknologi mutakhir seperti Artificial Intelligence (AI), cloud, big data, dan aspek interoperabilitas. Beliau meluncurkan gagasan krusial mengenai penerapan Defense One Data Policy (Kebijakan Satu Data Pertahanan).
Dalam aspek administrasi, Prof. Djagal menyoroti pentingnya akselerasi transformasi digital pertahanan memanfaatkan teknologi mutakhir seperti Artificial Intelligence (AI), cloud, big data, dan aspek interoperabilitas. Beliau meluncurkan gagasan krusial mengenai penerapan Defense One Data Policy (Kebijakan Satu Data Pertahanan).
Melalui pembentukan Single Integrated Defense Data Platform, seluruh komponen data mulai dari personel, alutsista, logistik, operasi, hingga intelijen akan terintegrasi penuh. “Langkah ini sangat penting untuk menghapus silo data di lingkungan militer, memastikan keputusan komando dapat diambil secara real-time, dan memperkuat interoperabilitas antarmatra,” urai Prof. Djagal.
Mengingat karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, Prof. Djagal menawarkan konsep inovatif Smart Archipelagic Logistics. Konsep cerdas ini bertumpu pada pembangunan jaringan logistik pertahanan nasional (national defense logistics network), pusat logistik (logistics hub), cadangan strategis (strategic reserve), serta titik pertahanan pulau (island defense node). Selain itu, beliau mendorong peralihan pemeliharaan alutsista dari metode reaktif menuju predictive maintenance berbasis AI dan sensor guna mencegah kerusakan sebelum mengganggu kesiapan operasi.
Tidak hanya fokus pada daya tempur, Prof. Djagal membawa dimensi baru pertahanan melalui Green Defense Logistics Policy. Aspek keberlanjutan ini diwujudkan melalui efisiensi energi, adaptasi isu lingkungan, pengembangan energi militer terbarukan (renewable military energy), manajemen bahan bakar cerdas (smart fuel management), serta pengembangan pangkalan militer ramah lingkungan (eco military base).
Terkait kemandirian industri pertahanan, Prof. Djagal menekankan pentingnya mencapai Defense Technology Sovereignty (Kedaulatan Teknologi Pertahanan) demi memutus ketergantungan pada luar negeri. Pengembangan teknologi prioritas nasional wajib diarahkan pada sektor drone, AI, radar, satelit, siber, dan sistem otonom dengan memaksimalkan kebijakan teknologi dual-use lintas sektor.

Sebagai penutup paparan, beliau membeberkan tahapan pembangunan jangka panjang:
-
Jangka Menengah (2030–2035): Fokus pada integrasi dan otomasi melalui platform logistik pertahanan berbasis AI, logistik otonom, drone logistics, dan robotic warehouse.
-
Jangka Panjang (2035–2045): Sasaran diarahkan menuju pencapaian full smart defense ecosystem, komando pertahanan berbasis AI (AI-driven defense command), komunikasi kuantum, energi terbarukan, serta jaringan pertahanan pulau yang tangguh.
Jalannya diskusi konseptual ini menghasilkan rumusan bahwa readiness dan sustainability harus menjadi indikator utama pembangunan kekuatan TNI. Sebagai langkah konkret, seminar merekomendasikan agar Akademi Militer segera mengintegrasikan konsep transformasi digital pertahanan, logistik kepulauan, keamanan siber, dan kebijakan logistik hijau ini ke dalam kurikulum, riset, serta perencanaan strategis pendidikan, khususnya pada Program Studi Administrasi Pertahanan.
Gagasan visioner ini dikunci dengan sebuah rumusan akhir seminar yang sangat kuat:
“Administrasi adalah tulang punggung tata kelola pertahanan, logistik adalah urat nadi daya tempur, teknologi adalah perisai kedaulatan, dan sinergi nasional adalah kunci menuju pertahanan NKRI yang siap, tangguh, dan berkelanjutan.”